LIBERALISME
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas
Pendidikan Kewarga Negaraan
Dosen : Nurjamal S.Ip
Dosen : Nurjamal S.Ip
Disusun Oleh :
DEDEN
UNIVERSITAS MATHLA’UL ANWAR BANTEN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah dan nikmat-Nya
sehingga makalah tentang Liberalisme
dapat terselesaikan tepat dengan waktu yang diharapkan.
Makalah ini
dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarga Negaraan,
dengan tujuan agar mahasiswa dan mahasiswi
memahami dan mengetahui materi dari makalah tersebut.
Ucapan
terimakasih saya sampaikan kepada dosen mata kuliah Pendidikan Kewarga Negaraan
yang senantiasa mendampingi dan membimbing kami dalam penyusunanan makalah ini.
Tak lupa kami mengucapkan segenap rasa terima kasih kepada teman-teman yang
telah memberikan dukungan dan semangatnya kepada kami.
Tentunya makalah
ini masih jauh dari kata sempurna, saran dan kritik yang sifatnya membangun
sangat kami harapkan.
Akhirnya, semoga
makalah ini bisa menjadi referensi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarga Negaraan
dalam kelas.
Malingping, November 2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Liberalisme berpengaruh terhadap
perkembangan paham demokrasi dan nasionalisme atas bangsa-bangsa di dunia.
Setiap individu mempunyai hak untuk menjalankan kepentingan yang diwujudkan
dalam sistem demokrasi liberal sehingga melahirkan fungsi parlemen sebagai
lembaga pemerintahan rakyat. Seterusnya, pemilihan umum dilakukan untuk memilih
para anggota parlemen, dan setiap orang berhak memberikan satu suara. Dalam
pemilu sering terjadi persaingan mencari kekuasaan politik. Masuknya seseorang
menjadi anggota parlemen otomatis akan berpengaruh terhadap penetapan
undang-undang atau jatuh bangunnya sebuah kabinet.
- Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian Liberalisme?
2.
Apa
Bagaimana Sejarah Liberalisme?
- Tujuan Pembahasan
1.
Untuk
mengetahui pengertian Liberalisme
2.
Untuk mengetahui Kebebasan-
Kebebasan Dalam Paham Liberalisme
3.
Untuk
mengetahui sejarah Liberalisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Liberalisme
Liberalisme adalah faham yang menghendaki adanya kebebasan kemerdekaan
individu di segala bidang, baik dalam bidang politik, ekonomi maupun agama.
Liberalisme adalah suatu ideologi dan pandangan falsafat serta tradisi politik
yang mendasar pada kebebasan dan kesamaan hak. Pada umumnya liberalisme
mencita-citakan suatu masyarakat untuk bebas dengan kebebasan berfikir bagi
setiap individu dengan menolak adanya pembatasan bagi pemerintah dan agama, hal
tersebut merupakan paham dari liberalisme. Paham liberalisme adalah berasal
dari kata spanyol yaitu liberales, liberales merupakan nama suatu partai
politik yang berkembang mulai pada abad ke-20, dimana pada waktu itu memiliki
suatu tujuan demi memperjuangkan pemerintah yang berdasarkan konstitusi.
Menurut faham itu titik pusat dalam hidup ini adalah individu. Karena ada
individu, maka masyarakat dapat tersusun, dan karena ada individu pula negara
dapat terbentuk. Oleh karena itu masyarakat atau negara harus selalu
menghormati dan melindungi kebebasan kemerdekaan individu. Tiap-tiap Individu
harus memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam bidang politik, ekonomi dan
agama
B.
Kebebasan- Kebebasan Dalam Paham Liberalisme
a.
Dalam Bidang Politik
Terbentuknya
suatu negara merupakan kehendak dari individu-individu. Maka yang berhak
mengatur menentukan segala-galanya adalah individu-individu itu. Dengan kata
lain kekuasaan tertinggi (kedaulatan) dalam suatu negara berada di tangan
rakyat (demokrasi). Agar supaya kebebasan atau kemerdekaan individu tetap di
hormati dan dijamin, maka harus disusun dibentuk Undang-Undang, Hukum, Parlemen
dan lain-lain. Demokrasi yang dikehendaki oleh golongan liberal tadi kemudian dikenal sebagai Demokrasi Liberal. Dalam alam demokrasi liberal itu
golongan yang kuat akan selalu memperoleh kemenangan, sedang golongan yang
lemah akan selalu kalah. Meskipun demikian demokrasi itu hingga sekarang dapat berjalan dengan baik di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.
b. Dalam Bidang Ekonomi
Liberalisme
menghendaki adanya sistim ekonomi besar. Tiap-tiap individu, tiap orang, harus
memiliki kebebasan kemerdekaan dalam berusaha, memilih mata pencaharian yang
disukai, mengumpulkan harta benda dan lain-lain. Pemerintah jangan mencampuri
masalah perekonomian, karena masalah itu adalah masalahnya individu. Semboyan
Kaum Liberal yang terkenal berbunyi adalah "Laisser faire, laisser
passer, ie monde va de lui meme" Artinya Produksi bebas,
perdagangan bebas, dunia akan berjalan sendiri. Dalam alam ekonomi liberal akan
terjadi persaingan hebat antara individu satu dengan individu lainnya.
Pengusaha-pengusaha dengan modal besar akan mudah menelan pengusaha-pengusaha
kecil. Akibatnya timbullah perusahaan-perusahaan raksasa yang dapat menguasai
perekonomian negara dan politik negara. Jurang pemisah antara si kaya dan si
miskin makin lama makin bertambah lebar dan dalam.
c.
Dalam Bidang Agama
Liberalisme
menganggap masalah agama sebagai masalah indiviu, masalah pribadi. Tiap-tiap
individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan beragama. Oleh sebab itu
Liberalisme menolak campur tangan negara (Pemerintah) dalam bidang agama.
Kebebasan kemerdekaan beragama menurut pendapat liberalisme dapat diartikan
:
- Bebas merdeka memilih agama yang disukai
- Bebas merdeka menjalankan ibadah menurut agama yang dianutnya.
- Bebas merdeka untuk tidak memilih menganut masalah satu agama.
C. Sejarah Liberalisme
Liberalisme pertama kali disuara gelorakan oleh golongan
borjuis perancis pada abad ke-18 sebagai reaksi protes terhadap kepincangan
keganjilan yang telah lama berakar kuat di Perancis. Sebagai akibat warisan
sejarah masa lampau, di Perancis terdapat pemisahan pembedaan yang tajam sekali
antara golongan berhak istimewa dan golongan tanpa hak. Golongan pertama
memiliki segala-galanya. Seakan-akan golongan inilah yang memiliki negara Perancis.
Mereka terdiri dari kaum bangsawan dan kaum alim atau ulama (padri).
Golongan kedua hanya memiliki kewajiban, tidak mempunyai hak apa-apa.
Mereka itu adalah rakyat Perancis, baik golongan borjius yang kaya raya maupun
golongan rakyat biasa. Ibarat budak belian, rakyat harus selalu tunduk dan taat
kepada tuannya, yaitu kaum bangsawan dan kaum padri.
Golongan
Borjius
yang diperlakukan sewenang-wenang tadi lalu berjuang untuk memperoleh kebebasan
kemerdekaan sebagai kaum penguasa mereka menuntut memperjuangkan kebebasan atau
kemerdekaan berusaha. Jadi kebebasan kemerdekaan dalam bidang ekonomi. Karena
sejak adanya Colbertisme (abad ke-17), pemerintah Perancis terlalu banyak
mencampuri masalah kebebasan ekonomi perdagangan, sehingga sangat mengekang
kebebasan kemerdekaan berusaha. Lambat laun tuntutan perjuangan golongan
borjius tadi tidak terbatas pada kebebasan kemerdekaan dalam bidang ekonomi
saja, melainkan juga dalam bidang politik dan agama. Reaksi protes golongan
borjius terhadap kepincangan atau keganjilan tata masyarakat dan tata
pemerintahan Perancis banyak dipengaruhi oleh karya tulisan Philosophes,
misalnya Voltare, Rousseau, dan Montesquie
- Voltare : Voltare (1694-1778), sebagai seorang penganut Rasionalisme banyak sekali mengemukakan kritikan atau kecaman terhadap kepincangan dan keganjilan yang terdapat di perancis.
- Jean Jacques Rousseau : Rousseau (1721-1778) yang menulis Du Contract Social, membentangkan pendapatnya mengenai tata negara. Menurut dia kedaulatan dalam suatu negara harus berada ditangan rakyat.
- Montesquie : Montesquie (1689-1755) menulis L'esprit des lois artinya jiwa undang-undang atau jiwa hukum. Dalam buku itu terdapat teorinya tentang Trias Politica. Ketiga kekuasaan yang dimaksud ialah : Legeslatif, Eksekutif dan Judikatif harus dipisah-pisahkan agar tidak terjadi sewenang-wenangan.
Buah
pikiran para Philosophes itu bukan hanya mempengaruhi golongan borjius,
melainkan juga mempengaruhi rakyat jelata yang lebih tertekan dan tertindas. Di
Perancis makin lama makin tertimbun perasaan tidak puas. Pada abad ke-18
golongan borjius merupakan golongan minoritas. Bila mereka sendirian
melancarkan aksi kebebasan kemerdekaan, maka tidak mungkin akan berhasil. Oleh
sebab itu mereka lalu mengajak golongan rakyat jelata untuk bersama-sama
melawan menantang golongan bangsawan dan padri. Sebagai akibatnya pada tahun
1789 meletus Revolusi Perancis. Jadi, Revolusi Perancis itu sebenarnya
revolusinya golongan borjius yang menuntut memperjuangkan kebebasan
kemerdekaan. Mereka itu kemudian disebut Golongan Liberal (Golongan
orang-orang yang bebas merdeka).
Gerakan
untuk mewujudkan Liberalisme membutuhkan waktu yang panjang dan lama. Di Perancis
Liberalisme baru benar-benar dapat dilaksanakan pada tahun 1870, yaitu setelah
Perancis menjadi Negara Republik yang ketiga. Dari Perancis gerakan liberalisme
tadi menyebar ke negara-negara lain di daratan Eropa. Tatkala Eropa dilanda api
Perang Koalisi (1792-1815) Napoleon Bonaparte beserta pasukannya
menjelajahi hampir seluruh pelosok daratan Eropa. Walaupun di negerinya sendiri
Napoleon memerintah sebagai seorang diktator, namun di daerah-daerah yang
diduduki atau dikuasai ia selalu menganjur-anjurkan Pemerintahan yang
berdasarkan Liberalisme. Setelah perang koalisi berakhir dan Napoleon jatuh,
gerakan Liberalisme sudah tersebar luas di luar wilayah Perancis. Perkembangan
Gerakan liberalisme di Perancis selalu di ikuti oleh negara-negara lain.
Ketika di Perancis meletus Revolusi bulan Juli tahun 1830 dan revolusi bulan
Februari tahun 1848, api revolusi itu dengan cepat menjalar ke negara-negara di
sekitar Perancis (Belgia, Italia, Austria, dan Jerman).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam bidang agama, penerapan paham
liberalisme berarti bahwa setiap individu bebas memilih dan menentukan agamanya
sendiri. Hal ini sangat berbeda, misalnya situasi pada masa sebelum terjadinya
Reformasi Gereja masyarakat Eropa diwajibkan untuk memeluk agama yang dianut
rajanya. Selain itu, liberalisme di bidang agama ini menghendaki adanya
kebebasan berfikir individu. Artinya, individu mempunyai hak untuk
mengungkapkan ekspresinya dan bukan berdasar atas kehendak gereja. Gejala
tersebut pada akhirnya melahirkan Reformasi Gereja yang kemudian memunculkan
agama baru, yaitu Kristen Protestan.
Di bidang pers, politik liberalis
memungkinkan seorang wartawan bebas memuat berita apa pun yang ia ketahui,
sementara para sastrawan bebas mengeluarkan pendapat dan ungkapan hatinya.
Masyarakat umum berhak membaca dan menilai sendiri tulisan-tulisan para
wartawan dan sastrawan tersebut. Demikian artikel yang menjelaskan definisi,
ciri-ciri dan perkembangan paham liberalisme di dunia.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.artikelsiana.com/2015/01/pengertian-liberalisme-sejarah-liberalisme.html
http://rossmalia.blogspot.co.id/2014/12/makalah-liberalisme.htmlhttp://elprima92.blogspot.co.id/2012/08/makalah-pemilihan-umum-calon-legislatif.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar